Monday, April 7, 2008

Runtuhnya USA Inc?

Senin, 7 April 2008 | 14:20 WIB

Sri Hartati Samhadi

Tidak sedikit ekonom yang melihat krisis di Amerika Serikat sekarang ini sebagai bagian dari konjungtur ekonomi biasa. Kelompok ini mengibaratkan perekonomian AS sebagai ”sumur tak berdasar” yang ”enggak ada matinye”. Mereka merujuk antara lain pada kejadian ketika Presiden Richard Nixon awal tahun 1970-an melepas keterkaitan dollar AS dengan emas. Ketika itu ekonomi AS juga diramalkan akan kolaps.

Namun, saat dunia masih mabuk dan terhuyung- huyung akibat dampak krisis AS tersebut, AS mampu bangkit jauh lebih cepat dan perekonomiannya kembali mengalami booming meninggalkan yang lain. Dan kejadian seperti ini bukan hanya sekali, tetapi hampir setiap kali resesi ekonomi yang bermula dari AS terjadi. Bukan tidak mungkin itu juga terulang lagi kali ini.

Kelompok yang optimistis melihat, secara fundamental perekonomian AS tetap akan menarik dan menjadi magnet bagi investor global dalam jangka panjang. Tahun 2006 dan 2007, sekitar 60 persen arus modal yang masuk neto global masih tertuju ke AS. Derasnya dana asing yang masuk itu memungkinkan pemerintah membiayai defisit transaksi berjalannya yang terus membengkak, mencapai 6 persen dari produk domestik bruto (PDB) sekarang ini.

Pertumbuhan produktivitas, sebagai kunci untuk terjadinya peningkatan pendapatan masyarakat, juga masih solid. Dari sisi demografis, komposisi penduduk AS juga lebih muda dan pertumbuhan penduduk lebih tinggi daripada di negara-negara maju lain. Demikian pula, pasar uang AS juga yang paling besar, paling likuid, dan paling maju di dunia. Itu yang membuat kelompok yang optimistis itu yakin perekonomian AS akan kembali booming setelah krisis finansial sekarang ini berlalu.

Dalam banyak kasus, seperti pada resesi tahun 2001, ekonomi AS terselamatkan kembali oleh obat kuat (drug steroid) yang diciptakan oleh Bank Sentral (Fed) dan pemerintah, dengan cara memompakan likuiditas dalam skala masif lewat kebijakan kredit murah atau suku bunga rendah ke dalam perekonomian.

Dengan begitu, konsumen yang pendapatannya tidak naik tetap bisa meminjam dana dalam jumlah besar ke bank dengan bunga relatif rendah untuk membeli rumah atau mengambil kredit beragunan rumah untuk membayar tagihan kartu kredit, membiayai uang kuliah bagi anak-anaknya, membeli mobil baru, dan sebagainya. Akibatnya, perekonomian pun bergerak, keuntungan perusahaan dan harga-harga aset melonjak. Ini yang disebut dengan istilah gelembung (bubble) ekonomi.

Tetapi, banyak pula analisis, terutama kubu yang pesimistis, melihat krisis AS sekarang ini jauh lebih serius. Mereka melihat, sebagian institusi besar di negara itu dalam kondisi ”krisis”. Bukan hanya institusi finansial dan perbankan, tetapi juga sistem dan kelembagaan kesehatan, transportasi, sistem politik, energi, pendidikan, bahkan agama. Dan krisis kredit macet perumahan (subprime mortgage) dan krisis finansial sekarang ini diibaratkan baru puncak dari gunung es raksasa yang kini mulai meleleh.

Mereka melihat, dibandingkan 30 tahun lalu, AS sekarang mencatat tingkat utang konsumen yang jauh lebih tinggi, defisit anggaran pemerintah federal dan defisit neraca transaksi berjalan yang juga jauh lebih besar, utang nasional yang membengkak (jauh lebih besar daripada yang dilaporkan), angka kebangkrutan individu yang mencapai rekor, melebarnya kesenjangan pendapatan, meningkatnya angka kemiskinan, dan memburuknya kualitas pelayanan sosial.

Juga angka pengangguran tertinggi dalam sejarah akibat berpindahnya lapangan kerja manufaktur dan berupah tinggi ke negara lain. Struktur perekonomian juga semakin bergantung pada sektor jasa yang menyumbang 84 persen PDB dan didominasi lapangan kerja berupah buruh murah dan informal.

Rumah kartu

Tak sedikit ekonom yang menggambarkan perekonomian AS—sang superpower abad ke-20 yang booming ekonominya banyak ditopang oleh sektor kelembagaan finansial yang merajai dunia—sebagai rumah kartu (house of cards) alias perekonomian yang dibangun di atas fondasi utang. Richard C Cook, penulis buku We Hold These Truths: The Hope of Monetary Reform, menyebut perekonomian AS sebagai suatu perekonomian yang bersandar pada penopang semu (artificial life-support system).

Dan penopang semu atau alat bantu kehidupan itu, menurut Cook, adalah sistem finansial AS yang kini di ambang kolaps. Sistem finansial itu yang selama ini membantu mengalirkan ”darah” ke dalam perekonomian AS, dengan cara menyedot likuiditas dari luar dalam jumlah besar untuk menggerakkan ekonomi AS dan membiayai defisit anggaran, perdagangan, dan neraca transaksi berjalan skala masif yang dihadapi oleh perekonomian terbesar dunia itu.

Likuiditas tersebut masuk dalam bentuk pembelian surat-surat utang yang diterbitkan pemerintah atau korporasi atau aset-aset lain, termasuk aset berbasis hipotek perumahan (mortgage) yang macet sekarang ini oleh pemerintah asing atau investor asing. Secara sederhana, defisit terjadi karena negara tersebut (mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakatnya) membelanjakan uang lebih banyak dari yang mereka hasilkan. Dan itu terjadi di AS.

Untuk pertama kali dalam sejarah, menurut sejumlah ekonom, perekonomian AS tidak lagi memiliki mesin atau lokomotif ekonomi baru sama sekali. Basis manufaktur, sebagian besar sudah berpindah ke negara lain melalui sistem outsourcing (penyerahan pekerjaan pada pihak ketiga), terutama ke negara-negara berupah buruh murah atau berbasis biaya produksi murah, seperti China dan India.

Gelembung demi gelembung (bubbles) ekonomi yang diciptakan pemerintah dengan bantuan Bank Sentral (Fed) selama ini, menurut sejumlah ekonom, hanya gejala (symptoms) dari tidak beresnya perekonomian. Gelembung itu sengaja diciptakan karena lokomotif ekonomi lain tak berfungsi karena mereka yang bekerja kian tergerus daya belinya akibat pendapatan yang stagnan dan faktor struktural lain, seperti hengkangnya kegiatan industri manufaktur ke negara lain.

Kalaupun AS cepat pulih kali ini, perekonomian AS tak akan pernah lagi sedigdaya sebelumnya. Mereka melihat stimulus ekonomi yang diluncurkan pemerintahan Bush serta injeksi likuiditas langsung oleh Fed ke sistem finansial (termasuk dengan mem-bail out sejumlah bank investasi besar) tidak akan menyelesaikan masalah karena tidak menyentuh akar masalah. Demikian pula rencana perombakan menyeluruh sistem dan kelembagaan finansial yang dicanangkan Bush, juga tidak akan menyelesaikan krisis saat ini.

Konstelasi ekonomi dunia sendiri sudah berubah dan bisa jadi ini bagian dari gejala awal tamatnya hegemoni ekonomi AS sebagai kiblat dari segala pusaran jantung kehidupan ekonomi dunia selama ini.

AS bangkit dari puing-puing Perang Dunia (PD) II pertengahan tahun 1940-an sebagai kekuatan ekonomi yang tidak ada tandingannya. Pasca-PD II sekitar separuh transaksi keuangan global adalah dalam mata uang dollar AS. Lebih dari separuh dari output dunia juga disumbangkan oleh AS. Sekitar dua pertiga cadangan devisa dunia pada tahun 1940 juga dimiliki AS.

Industri Amerika dimotori oleh General Motors, Ford, dan Chrysler Motors—biasa dijuluki The Big Three—juga memimpin di dunia tanpa ada saingan. Begitu juga industri baja, manufaktur alat mesin, aluminium, pesawat, dan industri terkait menjadi benchmark keunggulan AS hingga 1950-an. Raksasa industri minyak AS, seperti Mobil, Standard Oil of New Jersey, Texaco, Gulf Oil, menguasai industri minyak dunia. AS juga salah salah satu negara termakmur dunia dengan pendapatan per kapita salah satu tertinggi di dunia.

Namun, Abad Amerika (America’s Century) itu tampaknya harus berakhir. Daya saing, produktivitas, dan kekuatan industri manufaktur berbasis teknologi yang menjadi lambang supremasi ekonomi AS rontok satu per satu. Di berbagai industri, AS bukan satu-satunya dan dominan, disalip oleh negara maju lain, seperti Jepang, dan kemudian mungkin negara-negara industri baru, seperti Korea, Taiwan, bahkan China dan India.

Goldman Sachs adalah salah satu yang memprediksikan China sudah akan mengambil alih posisi AS sebagai perekonomian terbesar pada 2050 dengan AS nomor dua dan India di urutan berikutnya. Demikian pula dalam perdagangan barang dan jasa. Lemahnya posisi AS antara lain tergambar dari defisit perdagangan yang kian membengkak hingga 800 miliar dollar AS per tahun dan defisit neraca transaksi berjalan sekitar 6 persen dari PDB.

Dengan pertumbuhan impor rata-rata tiga kali lipat dari pertumbuhan ekspor dan nilai ekspor hanya 50-70 persen dari impor, negara itu bukan lagi negara produsen (producing-country), tetapi sudah menjadi negara konsumen (consuming-country).

AS adalah penyerap terbesar barang murah dari China yang membanjiri negara itu karena memang hanya itu yang bisa dijangkau dengan daya beli masyarakat kebanyakan AS sekarang ini. Ironisnya, Wall-Mart, jaringan raksasa supermarket AS, jugalah yang menjadi jaringan pemasar terbesar produk- produk murah China. Sekitar 70 persen barang yang dipajang di rak-rak toko Wal-Mart adalah buatan China.

Hegemoni dollar

Menurunnya pengaruh AS juga tergambar dari kian menurunnya pamor dollar AS. Tidak sedikit ekonom yang mengatakan, dominasi dan hegemoni dollar AS ditakdirkan segera berakhir dan tinggal sejarah. Dan jika itu terjadi, bisa berarti malapetaka bagi AS. Hampir separuh dari utang Pemerintah AS, yang mendekati 9 triliun dollar AS dan angkanya terus membengkak sekarang, ini adalah utang kepada asing.

Sebelumnya, AS bisa tenang- tenang saja karena utang luar negeri itu dalam denominasi dollar AS atau mata uangnya sendiri. Artinya, tidak seperti negara-negara Asia atau Amerika Latin yang pernah menghadapi krisis utang sekaligus krisis nilai tukar mata uang karena sebagian besar utang luar negeri mereka dalam denominasi mata uang asing yang menguat.

Tetapi itu dulu. Dollar AS sekarang ini bukan hanya melemah terhadap mata uang kuat dunia lainnya, tetapi juga semakin kehilangan pamor sebagai mata uang cadangan devisa utama dunia. Banyak kreditor dan bank sentral negara-negara di dunia yang sebelumnya memegang dollar AS untuk cadangan devisa mulai mencampakkan dan mengonversi kepemilikan dollarnya ke mata uang kuat lain.

Sedikitnya tujuh negara sudah mempertimbangkan untuk menanggalkan dollar AS sebagai cadangan devisa mereka. Demikian pula negara-negara produsen minyak Timteng, banyak yang mulai pindah ke mata uang lain, terutama euro, yang posisinya semakin perkasa dibandingkan dollar AS. Posisi AS lebih rentan lagi dengan sekitar 80 persen dollar AS sekarang ini bergentayangan di luar negeri, di antaranya di tangan negara-negara Asia, seperti China (dengan cadangan devisa sekitar 1,3 triliun dollar AS), India, Jepang, dan negara Asia lain.

Bagaimana Amerika bisa keluar dari masalah ini? Selain berdampak pada perekonomian global, resesi ekonomi di AS bisa menuntun pada meningkatnya ketegangan internasional.

Kekhawatiran terbesar para ekonom, kalangan politisi cenderung memilih cara mudah untuk menyelesaikan krisis ekonomi. Salah satunya, perang.

Mereka menunjuk pada depresi ekonomi dunia tahun 1930-an yang menuntun atau menjadi pemicu meletusnya Perang Dunia II. Sentimen proteksionisme dan meningkatnya tekanan terhadap negara-negara mitra dagang utama, terutama China di mana AS mengalami defisit neraca perdagangan terbesar, bisa menjadi pintu utama untuk masuk, selain dalih memerangi rezim yang melindungi teroris atau mengembangkan senjata berbahaya.

Tidak sedikit politisi AS memercayai perang sebagai jalan keluar dari tekanan ekonomi, seperti Bush yang melihat perang Irak baik bagi ekonomi AS. Perang atau invasi AS di Timteng juga diduga lebih banyak bermotif keinginan menguasai sumber minyak mentah, komoditas yang harganya kini melonjak tinggi di pasar dunia dan bisa menjadi salah satu sumber pemicu resesi ekonomi dunia.

AS juga mendadak paranoid. Ini antara lain ditunjukkan oleh Bush dan para sekutu negara majunya terhadap fenomena munculnya lembaga investasi milik pemerintah negara-negara asing (Sovereign Wealth Fund/SFW) yang masuk memborong aset-aset strategis di AS dan negara maju lain, seperti bank.

Kekhawatiran yang disuarakan kelompok negara maju dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos antara lain adalah negara- negara asing (terutama Timteng dan Asia) lewat SFW memiliki motivasi politik tertentu yang tidak baik dan bisa mengancam kedaulatan nasional negara-negara maju. Padahal, selama ini mereka membuka pintu lebar- lebar bagi masuknya dana asing yang banyak berperan dalam menggelembungkan ekonomi AS seperti sekarang.

Semakin cepat perekonomian AS pulih, semakin baik stabilitas perekonomian global asalkan, tentu saja, itu bukan dicapai dengan cara mudah, yaitu mengorbankan negara lain.

No comments: