Monday, December 17, 2007

RI Berisiko Tinggi


Indonesia Urutan Ketiga Terkena Dampak Pemanasan Global

Nusa Dua, Kompas - Indonesia menduduki peringkat ketiga paling berisiko terhadap perubahan iklim. Hal ini berdasarkan hasil analisis yang dibuat German Watch. Penetapan peringkat itu dilakukan dengan ukuran peristiwa bencana alam terkait perubahan iklim yang terjadi sepanjang tahun 2006.

Sven Harmeling dari German Watch, Selasa (11/12), menjelaskan, Filipina (nilai indeks 4,0) berada di peringkat pertama dalam Indeks Risiko Perubahan Iklim (CRI), di susul Korea Selatan (5,75) pada peringkat kedua. Indonesia (5,75) di peringkat ketiga dengan total korban tewas tercatat 1.297 orang. Peringkat Indonesia itu naik dari tahun sebelumnya, yang berpatokan pada data peristiwa sepanjang tahun 2005, yaitu di peringkat ke-39.

Ada empat indikator untuk pengukuran itu, yakni total jumlah korban tewas, kematian per 100.000 penduduk, kehilangan absolut dalam kemampuan membeli dalam juta dollar AS, dan kehilangan per persentase GDP.

Dalam peta yang lebih besar, yaitu dengan berpatokan pada data sepanjang tahun 1997 sampai 2006, Indonesia tidak termasuk ke dalam daftar 10 besar negara paling berisiko terhadap perubahan iklim.

Sementara itu, hasil survei yang dilakukan Globescan bekerja sama dengan The World Conservation Union (IUCN), Bank Dunia, dan sejumlah organisasi lainnya, dengan responden para tokoh berpengaruh dan para pengambil keputusan dari 105 negara, diperoleh gambaran bahwa 87 persen dari responden yang berjumlah 1.000 orang memilih pentingnya kerangka kerja aksi terkait perubahan iklim adalah demi pembangunan berkelanjutan.

Utang antargenerasi

Secara terpisah, Menteri Lingkungan Hidup Jepang Ichiro Kamoshita mengatakan bahwa pencapaian target pengurangan emisi gas rumah kaca seperti ditetapkan pada Protokol Kyoto adalah utang generasi saat ini kepada generasi-generasi mendatang.

Demikian dikatakan Ichiro Kamoshita berkaitan dengan perayaan ulang tahun ke-10 Protokol Kyoto di tengah berlangsungnya Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Nusa Dua.

"Sepuluh tahun Protokol Kyoto sangat bermakna. Di tengah ketidakpastian ilmu pengetahuan untuk meramal masa depan, pengurangan emisi karbon tetap harus dilakukan. Ini adalah utang antargenerasi," kata Ichiro.

Masih di Nusa Dua, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri pernyataan lintas agama dan perubahan iklim sebagai rangkaian kegiatan sampingan COP-13/UNFCCC di Bali. Menurut Presiden, seluruh agama yang diakui di Indonesia merasa punya alasan bersatu padu menempatkan perubahan iklim sebagai musuh bersama yang harus dicegah dan diatasi demi menjaga kelangsungan kehidupan. Hal senada disampaikan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. (OKI/BEN/NAW/INU)

No comments: