Monday, February 25, 2008

Benahi Kelistrikan


PLN Dapat Pasokan BBM
Lebih Murah Dari Swasta
Senin, 25 Februari 2008 | 01:18 WIB

jakarta, kompas - Pemadaman di sebagian Jawa Bali pekan lalu menunjukkan perlu ada pembenahan menyeluruh dalam penyediaan tenaga listrik. Selain mempertegas kebijakan penyediaan energi primer, pemerintah juga harus membenahi inefisiensi PT Perusahaan Listrik Negara.

”Apa memang pemadaman semata akibat tidak adanya jaminan pasokan atau di saat yang sama banyak pembangkit rusak sehingga daya yang hilang sangat besar. Kenapa tidak dilakukan penyelidikan, apa penyebabnya,” ujar pengamat kelistrikan Nengah Sudja, Minggu (24/2).

Ia memperhitungkan dengan kapasitas terpasang pembangkit di sistem Jawa Bali 21.000 Mega Watt (MW), seharusnya masih ada cadangan 6.000 MW ketika beban puncak. Laporan PT PLN menunjukkan, daya berkurang 3.000 MW dengan tidak optimalnya lima pembangkit.

Menurut Nengah, kalau semua pembangkit beroperasi, seharusnya masih ada cadangan 3.000 MW, sehingga tidak perlu ada pemadaman. ”Pemerintah harus memeriksa PLN, apa yang sebenarnya terjadi. Apa betul gangguan pasokan semata karena cuaca. Faktanya, PLTU Paiton yang dikelola swasta tidak ada gangguan pasokan,” kata Nengah.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa menilai penyediaan listrik yang melibatkan pemerintah sebagai regulator, dan PLN produsen penyedia energi primer, tidak berjalan sebagai sebuah sistem. ”Kalau memang ada gangguan pasokan karena faktor cuaca dan keterbatasan kapal, ini kan terjadi sejak sebulan lalu, mengapa tidak ada koordinasi antarinstansi terkait,” kata Fabby.

Ia mengatakan kerugian yang ditimbulkan akibat kegagalan manajemen pasokan bahan bakar merugikan negara. Sebab, PLN membakar lebih banyak bahan bakar minyak untuk menggantikan batu bara. ”Kebutuhan BBM PLN untuk pembangkit di Jawa naik dua kali lipat bulan Februari ini,” ujar Fabby. Ditegaskan, dalam jangka panjang, pemerintah perlu memikirkan jaminan pasokan energi primer.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui, kekurangan daya listrik sudah diperkirakan akan terjadi tahun ini sampai 2009. "Ini karena pada tahun-tahun lalu, kita belum membangun kembali pembangkit listrik, meskipun sudah terjadi peningkatan konsumsi listrik," ujarnya.

General Manager Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali PT PLN Muljo Adji menjelaskan, kondisi kelistrikan sistem Jawa Bali, sudah normal Senin ini. ”Kapal sudah masuk, stok batu bara untuk PLTU Tanjung Jati B sudah 40.000 ton. Diharapkan dalam tiga hari total cadangan bisa 66.000 ton. Setelah itu, kami harapkan kapal kedua masuk,” kata Muljo.

Adapun kondisi PLTU Cilacap masih belum aman. Sejak Minggu, daya pembangkit itu kembali diturunkan dari 160 MW menjadi 85 MW. Kapal batu bara dijadwalkan merapat hari ini, Senin (25/2). Sedangkan, PT Bukit Asam Unit Tarahan memastikan pengiriman batu bara ke PLTU Suralaya lancar. Gelombang tinggi di perairan Selat Sunda dalam tiga pekan terakhir tidak mengganggu operasional kapal.

Pasokan BBM

Anggota Komisi VII DPR Suharso Monoarfa mengatakan, karena PLN masih bergantung pada bahan bakar minyak, BUMN itu harus didorong lebih bebas mendapatkan pasokan dengan harga lebih murah. Tahun 2007, pemakaian BBM PT PLN 10,03 juta kiloliter. Tahun ini, diperkirakan kebutuhan BBM 10,53 juta kilolite. Namun, pemerintah hanya menyetujui 9,1 juta kiloliter.

Hasil lelang pengadaan BBM PT PLN yang diumumkan pekan lalu menunjukkan, perusahaan swasta bisa memasok lebih murah dari Pertamina. PLN melelang pengadaan minyak solar sebanyak 1 juta kiloliter.

Shell Indonesia memenangkan pasokan untuk Grati dan Belawan dengan harga MOPS plus 1,95 persen. Aneka Kimia Raya Corporindo memenangkan pasokan untuk PLTGU Pontianak dan PLTGU Tanjung Batu dengan tawaran MOPS masing-masing plus 7,45 persen dan 8,3 persen. Adapun PT Patra Niaga, anak perusahaan Pertamina menawarkan MOPS plus 9,5 persen.

Biaya Produksi Naik

Menurut Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia MS Hidayat, pemadaman listrik telah menaikkan biaya produksi industri kecil dan menengah (IKM) sekitar 10 persen.

Padahal, saat ini IKM tidakdapat menaikkan harga produknya karena daya beli masyarakat yang relatif rendah. Akibatnya, IKM harus mengurangi margin keuntungannya.

Industri pembibitan ayam misalnya, biaya produksinya naik 2-3 persen dari biasanya. Pengalihan sumber energi listrik dari PLN ke generator set membuat biaya listrik di Industri pembibitan naik 20 persen tiap killowatt-nya. "Memang dampaknya tidak begitu besar terhadap biaya produksi, tetapi waktunya tidak tepat karena daya beli masyarakat masih rendah," kata Paulus Setiabudi, Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas.

Menanggapi kerugian yang ditanggung UKM akibat pemadaman listrik, Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Suryadharma Ali menyatakan,” Semestinya ada pertanggungjawaban moral dari PLN. Kalau pelayanan buruk, ya harus ada kompensasi kepada pelanggan listrik, khusus UMKM," kata Suryadharma.

Kompensasi itu, menurut Suryadhamra, sangat perlu, sebab jika pembayaran tagihan listrik terlambat, pelanggan dikenakan denda atau listriknya diputus. "Kalau mau fair, kompensasi akibat pemadaman listrik haruslah diberikan," ujar Suryadharma. (DOT/HAR/HLN/OIN/MAS/OSA)

No comments: