Monday, February 18, 2008

Cina dan Aliran Modal Global



Oleh :Herdi Sahrasad

Associate Director Media Institute dan Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina dan Fellow the Indonesian Institute

Sampai Februari 2008 ini Cina diprediksi tetap merupakan negara yang menjadi tujuan aliran modal asing (foreign direct invesment) di Asia. Dalam konteks ini sebagai negeri di kawasan Asia, Indonesia mestinya harus lebih progresif dan atraktif dalam menarik investasi asing itu jika tak mau tertinggal jauh di belakang Cina (dan India).

Aliran modal asing (FDI) ke Cina pada tahun 2007 ternyata merupakan yang terbesar di Asia. Pada tahun 2008 ini aliran modal itu diperkirakan berjalan konstan. Artinya, Cina tetap menjadi tujuan utama FDI kategori pasar yang tengah berkembang. Cina diperkirakan kini memiliki cadangan devisa 1,3 triliun dolar AS. Di Asia Tenggara, etnis Tionghoa juga merupakan kelompok terkaya yang menguasai ekonomi kawasan.

Merujuk pada laporan The Economist pada 2007, hasil survei dan analisis mengenai kecenderungan prospek investasi dunia 2007--2011, tahun 2007 FDI ke Cina naik sedikit menjadi 80 miliar dolar AS dan akan tumbuh secara stabil hingga melampaui 90 miliar dolar AS pada akhir masa perkiraan.

Cina masih dipandang oleh banyak perusahaan internasional sebagai tujuan investasi yang diminati. Cina sendiri berkomitmen untuk memenuhi kewajibannya dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang dapat mendorong daya saing harga FDI Cina.

Meskipun demikian, beberapa faktor dapat menjadikan FDI di bawah perkiraan. Cina meskipun terbuka terhadap modal asing dan dalam beberapa aspek akan lebih meliberalisasikannya, terdapat tanda-tanda ketidaknyamanan di Cina dalam hal FDI dan proteksionisme FDI yang terjadi di banyak tempat lain.

Cina (RRC) merupakan salah satu penerima FDI terbesar di dunia. Pada tahun 2006 aliran masuk FDI total sebesar 78,1 miliar dolar AS (dalam bentuk neraca pembayaran). FDI yang masuk ke Cina secara umum terus meningkat dalam dua dasawarsa terakhir dengan aliran masuk tahunan rata-rata meningkat dari 3,9 miliar dolar AS (dalam bentuk neraca pembayaran) pada tahun 1985-1992 menjadi 37,8 miliar dolar AS pada tahun 1993-2000 dan 59 miliar dolar AS pada tahun 2001-2006.

Menurut para analis, FDI yang masuk ke RRC akan tetap tinggi dan meningkat secara bertahap pada jangka waktu 2007-2011, dengan rata-rata sebesar 87 miliar dolas AS. Meski demikian, data FDI RRC ini perlu mendapatkan perhatian karena aliran masuk FDI menjadi besar dengan adanya putaran bolak balik di mana investasi domestik dari RRC dibawa keluar, biasanya ke Hong Kong dan kemudian dikembalikan lagi ke RRC guna mendapatkan insentif pungutan pajak yang lebih rendah yang ditawarkan bagi para investor asing. Bank Dunia memperkirakan bahwa putaran bolak balik tersebut hingga 25 persen dari total FDI ke RRC.

Daya tarik
Berdasarkan laporan Konjen RI di Hong Kong tahun lalu, negara itu kini menjadi tempat menarik bagi banyak perusahaan yang berhubungan dengan barang-barang konsumsi yang hampir semuanya diimpor serta untuk jasa termasuk jasa keuangan. Meskipun demikian, alasan utama berinvestasi di Hong Kong adalah lingkungan institusional yang berpihak pada bisnis dan kedekatannya dengan RRC.

Hong Kong terus-menerus menyediakan pijakan bagi berbagai perusahaan asing yang melakukan bisnis di RRC. Lokasinya yang strategis mendorong perkembangannya sebagai pusat keuangan regional utama. Tidak seperti RRC dan Singapura, secara tradisional Pemerintah Hong Kong tidak menyediakan insentif khusus bagi para investor asing dengan alasan bahwa lingkungan bisnis yang terbuka telah dengan sendirinya menyediakan lingkungan yang ramah investasi. Namun, perilaku ini telah mulai berubah pada tahun-tahun terakhir.

Pada tahun 2000 sebuah badan promosi investasi, yakni Invest HK telah dibentuk dan tanah serta infrastruktur disiapkan menarik perusahaan hiburan AS, Walt Disney, untuk mendirikan taman hiburan di Hong Kong . Upaya-upaya seperti itu tidak seluruhnya berhasil. Area bisnis Cyberport yang didukung pemerintah dan didesain untuk menarik perusahaan perusahaan teknologi tinggi ke Hong Kong kurang berhasil.

Di bawah Cina, Hong Kong tetap menjadi entitas ekonomi terbuka dengan investasi asing yang mendapat perlakuan sama dengan investasi domestik. Meskipun Cina berusaha untuk menarik investasi asing langsung ke Cina melalui pusat-pusat bisnis, seperti Shanghai, sejumlah besar perusahaan tetap akan lebih tertarik ke Hong Kong karena kelebihan aturan dan infrastrukturnya.

Pada tahun 2002-2006 aliran masuk FDI setara dengan rata-rata 15,3 persen PDB dan lebih dari 70 persen belanja investasi tetap. Aliran masuk FDI dari tempat perlindungan pajak juga bukan merupakan investasi asing sebenarnya karena kebanyakan berasal dari perusahaan yang dimiliki orang Hong Kong atau yang berhubungan dengan putaran bolak-balik.

Meskipun demikian, FDI penting dalam mengembangkan Hong Kong sebagai pusat bisnis dan banyak perusahaan yang menempatkan kantor pusat regional atau kantor regional untuk RRC di Hong Kong. Dengan melihat perkembangan Cina maka Indonesia harus bekerja lebih cerdas dan kreatif untuk bersaing meraih arus modal asing langsung (FDI).

Indonesia harus berani mereformasi dan mengatasi faktor-faktor ekonomi dan nonekonomi yang mengganggu arus investasi, seperti masalah korupsi, kepastian hukum, infrastruktur, kepastian kepemilikan aset, adanya fasilitas, insentif, dan kemudahan bagi investor. Jika hal-hal itu bisa diatasi, barangkali ekonomi Indonesia akan pesat dan menjadi kekuatan besar di Asia Tenggara serta tak lagi dijuluki masyarakat internasional sebagai 'The Sick Man in Asia'.

No comments: