Tuesday, August 14, 2007

Sulitnya Mengakurkan Sektor Perbankan dengan Sektor Riil

sofyan hendra / jawapos

Risiko Tinggi, Nyaman di Konsumsi
SEJAK krisis moneter satu dasawarsa silam, sektor perbankan praktis tenggelam. Pelan tapi pasti, kini sektor perbankan mulai menunjukkan jati diri. Sayang, perannya sebagai lembaga intermediasi masih hilang.
---------------

Sektor riil dan keuangan memang terkesan jalan sendiri-sendiri. Bagaimana tidak. Penyehatan perbankan sudah mulai mantap, pasar modal pun tengah menikmati guyuran aliran modal yang cukup deras dari mancanegara. Tapi, di sisi lain pengusaha masih mengeluhkan banyak hal. Mulai belum membaiknya iklim investasi, hingga kurang cepatnya perbankan mengoreksi suku bunga kredit, meski Bank Indonesia (BI) sudah menurunkan bunga acuannya (BI Rate). Perbankan yang kelewat hati-hati, juga membikin sektor riil acap mengeluh.

Kepala Perencanaan Bisnis UMKM BRI Djoko Retnadi mengungkapkan rendahnya penyaluran kredit banyak disebabkan kendala eksternal dan internal. Meski sudah rutin diturunkan, Djoko menilai BI Rate yang kini 8,25 persen masih cukup tinggi. "BI Rate masih jauh di atas angka inflasi target BI 5-6 persen plus minus 1 persen. Sedangkan pencapaian inflasi Juni 2007 sudah 5,77 persen," kata Djoko kemarin.

Djoko mengenang, ketika bunga acuan di bawah 8 persen pada 2004, pertumbuhan kredit mencapai rekor tertinggi, yakni 27,01 persen. Titik nadir pertumbuhan kredit terjadi pada 2006 saat bunga acuan membumbung di atas 10 persen dampak inflasi akibat dua kali kenaikan harga BBM pada 2005. "Pertumbuhan kredit 2006 hanya 13,89 persen," lanjutnya.

Ekspansi kredit perbankan juga masih fokus pada beberapa sektor tradisional seperti pertanian 5,4 persen. Lalu, industri manufaktur 22,93 persen, perdagangan 20,93 persen, jasa 10,26 persen, dan konsumer termasuk properti 29,09 persen. Dia menilai, masih cukup banyak sektor lainnya seperti pertambangan, energi, transportasi yang belum digarap.

Kalangan perbankan memang lebih nyaman menyalurkan kredit konsumsi. Namun, meski menjadi primadona, kredit konsumsi pertumbuhannya terhambat rendahnya daya beli masyarakat. Djoko menjabarkan, kredit konsumsi pada 2005 tumbuh 36,81 persen. Angka itu melorot menjadi 9,51 persen pada 2006 dan per Maret 2007 12,03 persen.

Dia mengusulkan BI Rate diturunkan hingga mendekati angka inflasi. Bank sentral juga perlu bertahap menetapkan porsi minimum penyaluran kredit setiap bank kepada UMKM dan porsi maksimum untuk kredit konsumsi. Dengan begitu, diharapkan lebih fokus pada pemberian kredit modal kerja dan kredit investasi. "Ini memiliki efek ganda ekonomi lebih signifikan," ujarnya.

Dia mengakui, perbankan memang masih melihat risiko bisnis yang masih cukup besar terhadap dunia usaha. Hal tersebut, ditunjukkan dengan suku bunga pinjaman yang masih tinggi atau di atas 12 persen per tahun. Padahal, suku bunga dana pihak ketiga (DPK) telah melorot menjadi 5-6 persen per tahun.

Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom mengatakan, pertumbuhan sektor riil pasca-krisis memang kurang dari yang diharapkan. Sepanjang 2001 hingga 2006, pertumbuhan ekonomi yang menjadi indikator nyata sektor riil bergerak rata-rata 4,9 persen. "Angka itu di bawah rata-rata pertumbuhan sebelum krisis yang mencapai 7,6 persen," kata Miranda.

Sebelum krisis, dukungan investasi sangat kuat terhadap pertumbuhan ekonomi. Tapi kini, peran investasi masih rendah. "Ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi bertumpu pada konsumsi," sebutnya. Pertumbuhan ekonomi, dinilai Miranda masih ditopang sektor-sektor nontradable seperti pengangkutan, komunikasi, serta sektor bangunan.

Sektor tersebut memiliki karakteristik tingkat kandungan impor yang tinggi, dan berorientasi ke pasar domestik. Sementara sektor industri dan pertanian, yang notabene potensial dalam hal penyerapan tenaga kerja, perkembangannya belum optimal. Miranda menyimpulkan, sejumlah masalah investasi tersebut merupakan biang kerok rendahnya penyaluran kredit perbankan.

Pendapat Miranda diamini ekonom Indef (Instititute for Development of Economics and Finance) Aviliani. Dia mengatakan, penyaluran kredit perbankan yang cukup rendah bukan karena perbankan yang malas menyalurkan kredit modal kerja maupun investasi. Rendahnya kredit justru dipicu sedikitnya permintaan kredit dari pengusaha sendiri. "Masalahnya di iklim investasinya," kata Aviliani.

Pengusaha yang juga Komisaris Utama PT Gunanusa Utama Fabricator Iman Taufik mengatakan, saat ini sektor riil lebih memilih pembiayaan dari pasar modal. Seperti penawaran saham di bursa maupun menerbitkan obligasi. Di sisi iklim investasi, dia mengeluhkan aturan perburuhan dan perpajakan yang menghambat.

"Pajak penghasilan misalnya, masih dikenakan dua kali, termasuk ketika pembagian dividen," katanya. Buruknya infrastruktur, juga dinilai menjadi masalah yang cukup mendasar. (sofyan hendra)

No comments: