Tuesday, March 25, 2008

4.000 Tentara AS Tewas di Irak

4000 Tentara AS Tewas di Irak
Desakan Penarikan Pasukan AS Akan Kembali Menguat


Getty Images/Wathiq Khuzaie / Kompas Images
Tentara AS menghadiri acara Paskah di Kamp Liberty, Baghdad, Irak, Minggu (23/5). Pada hari yang sama empat tentara AS tewas dalam bentrokan berdarah.
Selasa, 25 Maret 2008 | 01:07 WIB

Baghdad, Senin - Selama lima tahun invasi di Irak, tentara AS yang tewas mencapai 4.000 jiwa, Senin (24/3). Data dari situs www.icasualties.org, korban tewas menginjak angka 4.000 setelah empat tentara tewas ketika patroli di Baghdad, Minggu (23/3).

Selain korban yang tewas, lebih dari 29.000 tentara terluka. Jumlah tentara yang tewas itu meningkat setelah Presiden AS George W Bush mengumumkan akan mulai mengakhiri perang besar-besaran di Irak tanggal 1 Mei 2003. Ketika itu AS mulai terjepit antara konflik sektarian dan meningkatnya perlawanan kelompok bersenjata anti-AS.

Menurut icasualties.org, 81,3 persen tentara AS tewas akibat serangan kelompok Al Qaeda, kelompok Sunni yang setia kepada Saddam Hussein, dan kelompok Syiah radikal. Sisanya tewas akibat insiden yang tidak terkait dengan pertempuran. Penyebab paling tinggi kematian tentara AS adalah bom-bom yang dipasang di pinggiran jalan. Selain bom di pinggir jalan, ledakan bom mobil, bom bunuh diri, serta serangan roket juga menjadi penyebab kematian tentara AS.

Invasi AS ke Irak dapat dianggap sebagai perang paling mematikan bagi AS setelah Perang Vietnam. Pada Perang Vietnam 58.000 tentara AS tewas (1964-1973), atau rata-rata setiap hari ada 26 tentara AS tewas.

Di Irak, rata-rata setiap hari ada dua tentara AS tewas. Menurut statistik icasualties.org, tahun paling mematikan bagi militer AS di Irak adalah tahun 2007 saat 901 tentara tewas. Pada tahun 2003 sebanyak 486 tentara tewas. Tahun 2004 sebanyak 849 orang, tahun 2005 sebanyak 846 orang, dan tahun 2006 sebanyak 822 orang tewas.

”Provinsi maut”

Dalam lima tahun terakhir ini sebagian besar serangan terjadi di empat dari 18 provinsi yang ada di Irak. Gejolak kekerasan tertinggi terjadi di Provinsi Anbar (Sunni). Di wilayah itu terdapat 1.282 tentara AS yang tewas sejak invasi oleh AS dimulai tahun 2003. Selanjutnya menyusul Baghdad dengan 1.255 tentara, Salaheddin (376 tentara), dan Diyala (238 tentara).

Khusus di Anbar dan Salaheddin, militer AS menghadapi perlawanan dari kelompok yang anti-AS. Sementara di Baghdad dan Diyala, AS terjepit di antara konflik tiga arah di antara kelompok Al Qaeda, kelompok Sunni yang setia kepada Saddam, dan kelompok bersenjata Syiah.

Gejolak kekerasan yang terjadi di Irak dengan banyaknya korban tewas itu seakan menegaskan keamanan Irak yang lemah. Apalagi sejak Januari 2008 tingkat gejolak keamanan meningkat meski menurut komandan-komandan militer AS, secara keseluruhan tingkat gejolak kekerasan di Irak turun 60 persen sejak Juni.

Jumlah korban tewas yang meningkat hingga 4.000 tentara itu diyakini akan memengaruhi opini publik AS. Isu itu juga akan kembali menjadi sorotan dalam kampanye presiden AS. Desakan agar semua tentara AS segera ditarik diyakini akan kembali marak.

Pengamat Irak di Pusat Studi Strategi dan Internasional di AS, Anthony Cordesman, menyebutkan 4.000 tentara AS yang tewas itu akan memicu gelombang perdebatan antara yang pro dan kontra invasi di Irak. ”Bagi penentang invasi di Irak, hal ini justru menjadi alasan kuat untuk mengakhiri perang,” ujarnya.

Meski saat ini rakyat AS relatif lebih sibuk memikirkan masalah domestik seperti ekonomi, invasi ke Irak tetap menjadi isu yang penting dalam kampanye presiden. Kedua kandidat Partai Demokrat, yakni Hillary Clinton dan Barack Obama, sama-sama meminta pasukan AS ditarik.

Namun, peneliti kebijakan pertahanan di Dewan Hubungan Internasional di Washington, Stephen Biddle, mengatakan, tidak akan ada yang berubah meski kini jumlah tentara AS tewas semakin meningkat. ”Tetapi memang kini pandangan umum publik tentang Irak membaik. Selama enam bulan ini pemberitaan di media juga lebih terfokus di isu menurunnya gejolak kekerasan. Akibatnya, isu Irak sebenarnya semakin hilang,” kata Biddle.

Meski telah memudar, ”hujan” serangan mortir di zona hijau kembali memicu kekhawatiran. Kelompok perlawanan dan kelompok bersenjata Irak diduga berusaha kembali menarik perhatian publik dengan melakukan berbagai macam serangan. ”Al Qaeda dan kelompok ekstrem dari Tentara Mahdi selama ini mencari cara agar tetap dapat jumlah korban yang tewas terutama dari AS. Mereka pasti akan menggunakan cara-cara biasa seperti ledakan-ledakan bom,” kata Cordesman. (REUTERS/AFP/AP/LUK)

No comments: