Monday, March 3, 2008

"Teroris Ekonomi" Juga Aman di Negara Tetangga Kita



Singapura

Senin, 3 Maret 2008 | 02:15 WIB

Simon Saragih

Saya yakin dia akan mencoba untuk bisa tiba di Indonesia di mana dia bisa menghindari penahanan. Ini akan lebih mudah ia dapatkan di Indonesia ketimbang di Singapura,” demikian dikatakan Clive Williams, seorang profesor dari Macquarie University, Australia, yang mengajar soal terorisme.

Akan tetapi, tahukah pakar teroris asal Sydney ini bahwa akar teroris adalah kemiskinan, rasa frustrasi, ketidakberdayaan, ketimpangan, dan ketidakadilan?

Inilah yang membuat mantan Sekjen PBB Kofi Annan menyindir halus Presiden AS George W Bush. Isu terorisme dikibarkan setiap hari, bahkan dalam setiap pidato Bush.

Padahal, kita tak pernah membicarakan secara serius bahwa kemiskinan adalah salah satu faktor penyebab suburnya terorisme, demikian pernah diutarakan Annan.

Tahukah Williams bahwa Indonesia yang kaya raya telah menjadi miskin karena teroris ekonomi? Bukankah ia paham bahwa teroris ekonomi itu telah menghasilkan ledakan besar ekonomi pada tahun 1997? Ledakan besar antara lain kurs rupiah yang mencapai Rp 17.000 per dollar AS dari sebelumnya sekitar Rp 3.000 per dollar AS.

Ledakan dahsyat akibat ulah terorisme ekonomi yang meninggalkan puluhan juta orang menjadi pengangguran tiba-tiba untuk sebuah kesalahan yang tidak mereka tahu.

Teroris ekonomi itu antara lain juga spekulan yang berjas rapi dengan dasi yang indah berwarna-warni. Teroris ekonomi itu adalah juga pemilik usaha, lengkap dengan bank, yang kemudian mendapatkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Namun, sebagian teroris ekonomi itu telah lari membawa sebagian dana BLBI, atau sebagian lain telah menikmati kehidupan hasil dari korupsi di Indonesia, dengan meraih keuntungan besar dari bisnis minyak, emas, gas, kayu gelondongan, dan lainnya.

Ketika Mas Slamet Kastari lenyap dari penjara di Singapura, Pemerintah Singapura meminta aparat Indonesia melakukan penangkapan. Ini ditanggapi antusias oleh aparat kita.

Harusnya kita juga cukup antusias menangkapi para teroris ekonomi itu. Bukan untuk dipermainkan atau dijadikan sapi perahan, tetapi diminta bertanggung jawab atas tindakan kriminal ekonomi yang mereka lakukan dan telah memiskinkan rakyat Indonesia. Ini mungkin hanya mimpi. Teroris itu aman- aman aja tuh di negara tetangga.

 

No comments: