Monday, March 10, 2008

Harga Minyak Sempat Melewati 106 Dollar AS Per Barrel


Senin, 10 Maret 2008 | 00:44 WIB

New York, Minggu - Harga minyak mentah sempat melonjak melewati 106 dollar AS per barrel pada perdagangan Jumat (7/3) waktu New York. Akan tetapi, pada penutupan, harganya ditutup sedikit melemah setelah keluar angka pasar tenaga kerja AS yang mengecewakan.

Menurut data dari Departemen Tenaga Kerja AS, para pemberi kerja telah memangkas 63.000 pekerjaan selama Februari saja. Angka ini merupakan penurunan tertinggi selama lima tahun terakhir. Buruknya pasar tenaga kerja telah membuat para pedagang minyak yakin bahwa Bank Sentral AS (The Federal Reserve) akan memangkas lagi tingkat suku bunganya pada pertemuan 18 Maret.

Analis senior Darin Newsom dari DTN mengatakan, investor menanggapi soal suku bunga ini dengan dua cara. Pertama, melakukan penjualan aset karena melihat prospek ekonomi AS yang buruk dan permintaan minyak akan melemah. Kedua, membeli aset dengan alasan buruknya data ekonomi akan membuat Fed memangkas lagi tingkat suku bunganya.

Akhir pekan lalu hanya sedikit investor yang bertransaksi minyak membuat harga minyak terkoreksi hingga 1 dollar AS per barrel, sebelum naik lagi menembus rekor baru.

Harga kontrak minyak jenis light sweet untuk pengiriman April turun 32 sen menjadi 105,15 per barrel di Bursa Berjangka New York. Akan tetapi, harga minyak naik turun dengan rentang yang sangat lebar. Harga paling tinggi adalah membentuk rekor harga baru 106,54 dollar AS per barrel, dan harga paling rendah sebesar 103,91 dollar AS per barrel.

Dollar AS terus melemah

Seiring dengan kian rendahnya tingkat suku bunga, nilai tukar dollar AS juga terus melemah karena para investor akan mengalihkan asetnya ke mata uang yang memberikan tingkat imbal hasil lebih tinggi.

Semakin rendah nilai tukar dollar AS, semakin banyak pula orang yang membeli komoditas seperti minyak mentah untuk melakukan lindung nilai agar nilai asetnya tidak merosot.

Harga minyak mentah sudah naik 23 persen dibandingkan dengan bulan lalu. Nilai tukar dollar AS juga semakin melemah terhadap euro. Satu euro saat ini setara dengan 1,55 dollar AS. Dollar AS diperkirakan akan terus melemah setelah Fed memangkas suku bunganya.

”Gerakan dollar AS masih sangat kritis,” ujar Jim Ritterbusch, Direktur Utama Ritterbusch and Associates, sebuah konsultan energi dari Galena, Illinois.

Konflik antara produsen minyak Venezuela dan Kolombia juga mendorong tingginya harga minyak akhir pekan lalu. (AP/AFP/REUTERS/JOE)

No comments: